Batik Tulis Tasik

Batik Tulis Tasik

Gandjar sakri

Hari Batik Nasional telah berlalu, tanggal 2 Oktober 2012. Sebagian masyarakat Indonesia menyambutnya dengan berpakaian batik, pria maupun wanita, ada juga yang menampilkan kartu ucapan Selamat Hari Batik Nasional pada jejaring sosial Facebook. Pokoknya, bangsa Indonesia berbangga hati memiliki hasil budaya batik, khususnya batik tulis, yang memiliki nilai yang sarat dengan teknik, keindahan, simbol dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal, yang diakui dunia.

Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, berdasarkan Kepres Nomor 33 Tahun 2009,  yang diputuskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  tanggal 17 Nopember 2009.  Hal ini berkenaan dengan pada tanggal tersebut Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO), lewat keputusan 24 negara yang bersidang  di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab,  mengakui batik sebagai “Warisan  Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces  of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Di samping batik,  UNESCO juga mengakui hasil budaya bangsa Indonesia lainnya sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi,  wayang (2003), keris (2005) dan angklung (2010).

Hari Batik Nasional merupakan pendorong yang memicu kesadaran kecintaan terhadap batik dan mampu meningkatkan produksi batik serta dukungan terhadap pelaku usaha bidang batik, yang mayoritas UKM atau industri kecil.

Batik Tulis Tasik, Paceklik?

Tapi sayang, perkembangan perbatikan di Tasikmalaya nampaknya belum seperti yang diharapkan Hari Batik Nasional, terutama batik tulisnya, lagi paceklik. Hal ini paling tidak tercermin pada tulisan yang dikemukakan blognya ragamhandicraftrajapolah.

Perajin batik tulis di Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat sudah mulai menyusut dan perajin aktif membuat batik tulis yang tersisa saat ini hanya 11 orang.“Sekarang, jumlah perajin batik tulis di Sukaraja yang masih rajin membuat tinggal 11 orang,” kata Dedi, salah seorang sesepuh perajin batik Sukaraja, di Tasikmalaya.

Dia mengatakan, keberadaan Batik Sukaraja masih bertahan memproduksi, meskipun hanya dilakukan perajin yang sudah tergolong memasuki lanjut usia. Menurut dia, kalangan remaja atau anak muda yang berminat untuk menekuni Batik Tulis Sukaraja khas Kabupaten Tasikmalaya terlihat kurang. “Ya kalangan remaja masih kurang untuk serius belajar membatik, makanya sekarang hanya beberapa orang saja yang masih membuat batik,” katanya.

Pada beberapa tahun silam, para perajin Batik Sukaraja mencapai lebih dari 40 orang, namun seiring berkembangnya zaman mulai mengalami penurunan hingga diperkirakan tersisa 11 orang. Hal itu, katanya, juga disebabkan anak dan cucu dari para perajin batik yang lebih cenderung memilih bekerja di luar kota atau menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di pemerintahan. “Sebagian generasi penerusnya pada bekerja menjadi PNS, jadi sekarang jarang ada anak muda yang mau membatik,” kata pejuang Batik Sukaraja itu.

Padahal, katanya, Batik Sukaraja sudah cukup terkenal di berbagai daerah, bahkan pemasarannya sudah cukup luas dari dalam kota hingga ke luar kota dan bahkan luar pulau.Batik Sukaraja memiliki ciri khas dan corak yang berbeda dibandingkan dengan batik lain yang memiliki warna gelap identik dengan warna hitam dan coklat.

Selain itu, proses pembuatan Batik Sukaraja masih tradisional atau dibuat dengan tangan-tangan perajin yang terampil dengan harga jual relatif murah mulai dari Rp.400 ribu. “Batik Sukaraja coraknya lebih gelap dibandingkan dengan batik-batik lain. Proses pengerjaannya pun masih tradisional,” katanya.

Diperlukan Bantuan Pemerintah

Sejak dicanangkannya Hari Batik nasional, perkembangan batik di Indonesia berkembang pesat.  Semua daerah penuh semangat mengembangkan industri batik sehingga batik menjadi komoditas yang mendongkrak ekonomi regional.

Batik printing yang berkembang dengan pesat memang menggembirakan, tapi itu bukan batik seperti batik yang ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan  Kebudayaan PBB (UNESCO),  kata Zahir Widadi, pengamat batik asal Pekalongan pada pra-Konvensi Nasional Standar Batik yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah, Tanggal 29 September yang lalu (Kompas 1 Oktober 2012).

Selanjutnya, Zahir Widadi mengatakan,  bangsa Indonesia harus terus menjaga tradisi batik tulis. Ini untuk menjaga  kepercayaan dunia atas warisan budaya batik khas Indonesia. Pemerintah juga harus tegas  mendorong perajin dan pengusaha batik agar jelas membedakan batik tulis dan batik cap (printing).

——————————

Sumber: ragamhandicraftrajapolah.wordpress.com/   Kompas, 1 Oktober 2012

Foto: batik-tasikmalaya.com/.   all-batik.blogspot.com/,   balareabatikjabar,org/.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: